Banyakorang Kristen juga mengalami hal tersebut. Jika mereka tidak mati setelah diperkosa maka sebagian besar pasti akan hamil diluar nikah atau hamil dari hasil pemerkosaan yang terjadi pada Mei 1998 tersebut. Banyak wanita Tionghoa yang mengalami depresi yang berat terlebih lagi mereka harus mengandung anak hasil pemerkosaan. Babi aborsi. 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Saat ini Aborsi menjadi salah satu masalah yang cukup serius, dilihat dari tingginya angka aborsi yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia sendiri, angka pembunuhan janin per tahun sudah mencapai 3 juta. Angka yang tidak sedikit mengingat besarnya tingkat kehamilan di Indonesia. Fokuspermasalahan berpusat kepada pelaksanaan pesta pernikahan wanita hamil diluar nikah menurut hukum Islam, menurut imam syafi'i di masyarakat Desa Suka Jadi Kecamatan Hinai. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hukum Islam dalam melaksanakan pesta pernikahan wanita hamil diluar nikah menurut Imam Syafi'i. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Untuklebih jelasnya berikut ini beberapa fakta tentang hukum hamil di luar nikah menurut Kristen. 1. Kekudusan Dalam Alkitab selalu dijelaskan dan berulang kali diucapkan makna tentang kekudusan. Karena Tuhan itu kudus maka setiap anak Tuhan yang mengikuti kehendakNya juga seharusnya hidup kudus dan berusaha menjauhi dosa. Dokmau tanya, saya hamil diluar nikah, hamil 2 bulan keguguran tapi yang keluar hanya kantung kehamilan dan darah, janin tidak. Apakah saya harus dikuret dok? Apakah rahim saya sudah bersih? Adakah dokter atau bidan yang mau kuret pasien yang keguguran diluar nikah? Saya domisili di Padang, Sumatera Barat. Terimakasih dok QFeeGSO. saya Irvan. Saya ingin bertanya seputar perkawinan dalam Katolik. Saya memiliki teman yang pacarnya hamil di luar nikah. Setelah dibicarakan perkara ini oleh kedua belah pihak, keluarga memutuskun untuk menikahkan mereka karena memang keduanya ada rasa sama suka. Ada kendala di mana mereka berbeda agama, yang pria beragama Katolik dan pacarnya beragama Islam. Tetapi si wanita bersedia mengikuti keyakinan teman saya. Dengan kata lain ingin masuk agama Katolik dan keluarga juga setuju. Masalahnya, karena berbeda keyakinan dan hamil di luar nikah mereka bingung bagaimana cara mengurus terkait regulasi dan tahapan untuk menikah. Pertanyaan saya Bagaimana Gereja Katolik menyikapi kehamilan di luar nikah? Ketika ingin menikah, jika salah satu pihak bukan Katolik bagaimana? Apakah bisa langsung menikah menggunakan prosesi perkawinan campur, atau si wanita harus masuk Katolik dulu baru menikah? Romo Postinus Gulö, OSC Hallo Irvan. Terima kasih pertanyaan Anda. Dari kisah Anda ini, ada tiga “kunci kasus” a hamil di luar nikah; b memutuskan akan nikah; dan c nikah beda agama. Pertama, hamil di luar nikah. Bagaimana tanggapan Gereja? Tentu, melakukan persetubuhan di luar perkawinan yang sah merupakan dosa; tindakan yang bertentangan dengan moral. Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Evangelium Vitae EV, arti. 23 menyesali pudarnya rasa hormat terhadap sakralitas seksualitas. Menurutnya, dewasa ini ada banyak orang yang melakukan hubungan seksual dengan semaunya, bertentangan dengan moral Kristiani dan semata-mata untuk memuaskan keinginan-keinginan serta naluri-naluri pribadi; bahkan hanya didorong oleh cinta diri. Anak-anak muda jangan pernah jatuh dalam seks pra-nikah. Jangan asal menuruti dorongan nafsu bdk. 1 Petrus 114-16; 2 Tim 222. Lebih banyak akibat negatifnya daripada positifnya. Ditanggung seumur hidup pula! Hanya saja begini kalau kita berhadapan dengan teman-teman kita yang mengalami permasalahan semacam ini, kita berusaha menguatkan mereka. Perasaan mereka tentu campur aduk. Ada yang malu. Ada yang bingung harus bagaimana. Kita dukung mereka untuk tidak menggugurkan bayi dalam kandungan. Jangan dosa ditutup dengan dosa lain. Jangan kesalahan ditutup dengan kesalahan lain. Hamil di luar nikah itu merupakan perbuatan yang salah. Maka, jangan ditutup lagi dengan perbuatan salah lain, seperti aborsi! Kedua, memutuskan akan menikah. Dalam kisah ini, mereka menikah karena ada rasa suka sama suka. Apakah ini benar? Apakah bukan karena sudah hamil? Dalam Kitab Hukum Kanonik Kanon 1101 §1 ditegaskan agar apa yang ada di dalam batin, sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam kata-kata. Jangan sampai menyatakan “mau menikah”, tetapi dalam hati tidak demikian. Ini pura-pura menikah; dan jika tidak mau menikah’, maka ia melakukan “simulatio totalis” atau menolak perkawinan itu sendiri atau pura-pura menikah bdk. Kanon 1101§2. Jika seseorang sebenarnya “menolak menikah”, namun karena sudah hamil di luar nikah, dia pura-pura menikah agar ada status bayinya, akibatnya fatal perkawinan itu tidak sah! Baik jika mereka berdua berkonsultasi kepada Romo Paroki. Sebab, Romo Paroki akan membantu keduanya untuk menyelidiki apakah keduanya memiliki motivasi yang benar, sungguh-sungguh dan penuh untuk menikah. Akan tetapi, saya usul begini jika salah satu atau keduanya belum siap menikah, lebih baik jangan buru-buru menikah. Perlu waktu kesiapan dan kemantapan komitmen menikah. Kalau memilih usul ini, berarti bayi ditunggu sampai dilahirkan, lalu dijaga dengan baik dan penuh cinta. Namun, jika ada keduanya sudah siap dan mantap menikah, maka baik jika segera menghubungi Romo Paroki agar calon istri ini bersama calon suaminya didampingi dengan sungguh-sungguh dan dalam waktu yang memadai. Ketiga, nikah beda agama. Dalam kisah ini, laki-laki beragama Katolik. Sementara perempuan beragama Islam non-baptis. Jika mereka menikah, maka mereka akan menikah beda agama. Ada rencana bahwa perempuan ini mau mengikuti agama calon suaminya. Kita tahu bahwa orang dewasa yang mau dibaptis Katolik wajib MENGIKUTI MASA KATEKUMENAT masa pembelajaran selama satu tahun. Apakah dia sempat dibaptis sebelum menikah? Saya usul begini jika perempuan ini mau menjadi Katolik, maka ia ikut Katekumenat dulu. Di sela-sela ikut Katekumenat itu, dia juga mempersiapkan diri untuk menikah. Tentu, dalam ajaran Katolik, “perbedaan agama” merupakan “halangan perkawinan yang sah” Kanon 1086. Maka, agar dapat menikah dengan sah, keduanya mesti mendapatkan “dispensasi” dari salah seorang otoritas Gereja ini, yakni dari uskup atau Romo Vikaris Jenderal atau Romo Vikaris Episkopal teritorial. Namun, dispensasi atas nikah beda agama, tidaklah sembarangan diberikan. Ada syaratnya, sesuai Kanon 1125, yakni pihak Katolik harus menyatakan janji di hadapan Allah melalui kehadiran Romo dan umat yang berhimpun. Janji-janji itu, yakni pertama, pihak Katolik menyatakan bersedia menjauhi bahaya meninggalkan iman Katolik. Kedua, berjanji dengan jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga untuk membaptiskan anak-anak yang akan lahir secara Katolik. Ketiga, ia berjanji dengan sekuat tenaga bahwa akan mendidik semua anak dalam Gereja Katolik. Dalam kanon 1125 itu pula ditegaskan bahwa janji-janji pihak Katolik hendaknya diberitahukan kepada pihak yang bukan Katolik. Mengapa? Alasannya sederhana agar sebelum menikah, keduanya sudah menyepakati janji-janji pihak Katolik ini. Setelah menikah, mereka berdua tidak ribut lagi soal pembaptisan dan pendidikan anak dalam Gereja Katolik. Umumnya, jika non-baptis ini sudah menjadi katekumen calon baptis Katolik, maka ia pasti mendukung janji pihak Katolik ini. Tidak ada masalah, toh dia akan menjadi Katolik. Selain itu, calon pasutri ini diajari mengenai tujuan perkawinan dan ciri-ciri hakiki esensial perkawinan yang tidak boleh dikecualikan oleh calon pasangan. Calon pasutri ini bisa didampingi secara personal oleh Romo karena calon istri sudah hamil, atau bisa juga melalui kursus persiapan perkawinan. Demikian jawaban saya atas pertanyaan ini. Semoga dapat membantu. Tuhan memberkati. Bandung, 22 April 2023 Romo Postinus Gulö, OSC Anda punya pertanyaan untuk Romo? Kirimkan pertanyaan Anda melalui email redaksi Pernah studi Hukum Gereja di Universitas Kepausan Gregoriana, Roma. Saat ini menjadi Formator Skolastikat OSC di Bandung dan anggota Tribunal Keuskupan Bandung. Abstract Perkawinan merupakan bagian dari dimensi kehidupan yang bernilai ibadah sehingga menjadi sangat penting. Manusia yang telah dewasa, dan sehat jasmani serta rohaninya pasti membutuhkan teman hidup untuk mewujudkan ketenteraman, kedamaian dan kesejahteraan dalam hidup berumah tangga. Realitas kehidupan masyarakat tidak dapat dihindari adanya hamil diluar nikah. Hamil diluar nikah adalah tindakan yang pada dasarnya sangat tidak dianjurkan oleh agama, karena agama mengajarkan manusia pada kebajikan, namun demikian praktek ini masih banyak kita jumpai di dalam penelitian ini adalah 1 Mengapa terjadi perbedaan mengenai pernikahan hamil di luar nikah antara Kompilasi Hukum Islam KHI dan Hukum Islam HI?; 2 Bagaimana status hukumpernikahanwanitahamilakibatzinadenganlaki-laki yang menghamilinyamenurutKompilasi Hukum Islam KHIdanfiqih Islam?.Kesimpulan dari penelitian ini adalah 1 Menurut KHI bahwa wanita yang hamil di luar nikah bisa langsung di nikahkan dengan laki-laki yang menghamilinya tanpa menunggu wanita itu melahirkan kandugannya. Sedangkan berdasarkan hukum Islam dalam hal ini pendapat Imam Malik dan Ahmad bin Hambali yang mengatakan tidak boleh melangsungkan pernikahan antara wanita hamil karena zina dengan laki-laki sampai dia melahirkan kandungannya. Perbedaan tersebut terjadi karena di pengaruhi oleh perbedaan dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis yang digunakan dalam menafsirkan permasalahan pernikahan hamil di luar nikah. KHI menjelaskan pernikahan hamil di luar nikah berdasarkan dalil Al-Qur'an surat An-nur ayat 3, Mazhab Syafi'i dan Hanafi, pendapat Abu Bakar, Umar dan Ibnu Abbas. Sedangkan Hukum Islam menggunakan dalil Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 11, 12, dan 176, surat At-Talaq ayat 4, Mazhab Maliki dan Ahmad bin Hambal; 2 KHI membolehkan menikahi wanita hamil akibat zina dengan laki-laki yang menghamilinya, menurut hukum Islam status hukum pernikahan wanita hamil akibat zina dengan laki-laki yang menghamilinya pun terjadi perbedaan pendapat diantara ke empat mazhab. Mazhab Hanafi dan Syafi'i membolehkan pernikahan wanita hamil akibat zina dengan laki-laki yang menghamilinya. Mazhab Maliki dan Hanbali melarang pernikahan wanita hamil akibat zina dengan laki-laki yang menghamilinya. Apakah pendapat Islam mengenai hukum hamil di luar nikah? Tentunya, hal ini mengundang banyak pertanyaan dan juga satu hal yang pasti bahwa sejatinya pernikahan menurut Islam adalah sebuah dikutip dari jurnal yang diterbitkan Universitas Pendidikan Indonesia, ada beberapa poin yang menyatakan pernikahan dikatakan antaranya, yang pertama ketika mempelai perempuan halal dinikahi oleh laki-laki yang akan menjadi suaminya. Kedua, pernikahan dihadiri oleh dua orang saksi yang terakhir yaitu, ada wali mempelai perempuan yang melakukan ketiga ini dianut muslim di Indonesia dan merupakan pendapat Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Hasan Basari, Ibn Abi Layla, dan Ibn bagaimana dengan hukum hamil di luar nikah? Simak pembahasan berikut ini, ya, Moms!Baca Juga Apa Sajakah Persiapan untuk Program Hamil?Berbagai Pendapat Hukum Hamil di Luar NikahFoto Berbagai Pendapat Hukum Hamil di Luar Foto Cincin Pernihakan Orami Photo StocksHukum hamil di luar nikah mengundang banyak memang hamil di luar nikah merupakan hal yang tabu di Indonesia, tidak dapat dipungkiri hal ini banyak di luar nikah dianggap sebagai aib dalam keluarga, dengan demikian wanita yang hamil harus segera dinikahi untuk menghapus dari Jurnal Hukum Perdata Islam, menurut pendapat Imam Syafi’i, perkawinan akibat hamil di luar nikah adalah sah boleh dilangsungkan ketika seorang wanita dalam keadaan perkawinan itu dilakukan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki yang bukan ini sebagaimana yang tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman Imam Syafi'i tentang kebolehan perkawinan tersebut adalah karena wanita tersebut, termasuk golongan wanita yang haram untuk yang lahir sebagai akibat hubungan di luar nikah, nasab atau keturunannya kembali Juga Ini Hukum Merawat Orang Tua dalam Islam, Insya Allah Ganjarannya Surga!Namun, pendapat ini cukup berbeda dengan Imam Hanafi. Imam Hanafi hanya membolehkan menggauli jika yang menikahinya laki-laki melakukan zina Imam Syafi'i membolehkan menggaulinya baik oleh laki-laki yang menghamilinya atau itu, menurut Imam Maliki dan Hambali tidak membolehkan menikahi wanita hamil di luar nikah baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau bukan yang itu, Imam Hanafi dan Syafi'i berpendapat bahwa mentalak wanita hamil hukumnya jaiz boleh.Adapun menurut Imam Maliki mentalak wanita hamil hukumnya haram, sebab mereka mengkiyaskan talak di dalamnya kepada talak pada masa haid di luar Imam Hanafi dan Syafi’I bahwa tidak ada iddah bagi wanita hamil karena Imam Maliki dan Hambali, yaitu mewajibkan adanya iddah bagi wanita hamil di luar semua pendapat yang menghalalkan wanita hamil di luar nikah dinikahkan dengan laki-laki yang menghamilinya, karena beberapa Juga Nama Bayi Islam Berawalan Huruf B yang IndahAisyah ra berkata, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, kemudian beliau berkata“Awalnya kotor dan akhirnya perbuatan nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal.” HR Thabrani dan Daruquthni.Adapun pendapat yang mengharamkan seorang laki-laki menikahi seorang wanita yang sedang mengandung anak dari orang itu dapat mengakibatkan rancunya nasab anak tersebut. Dalilnya adalah beberapa nash berikut SAW mengatakan "Janganlah disetubuhi dikawini seorang wanita hamil karena zina hingga kelahiran." HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Hakim.Nabi SAW mengatakan "Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain." HR Abu Daud dan Tirmizi.Berbagai pendapat ini mungkin dapat membuat Moms sebenarnya peraturan pemerintah juga telah menetapkan hukum hamil di luar nikah yang bisa dipahami. Simak ulasan berikutnya, Juga 5 Penyebab Lama Hamil setelah KeguguranFoto Hukum Hamil di Luar Nikah Menurut ShutterstockFoto Kehamilan Orami Photo StocksDikutip dari Kanwil Kemenag Sumsel, perhatikan Kompilasi Hukum Islam KHI dengan instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991 Tanggal 10 Juni pelaksanaannya diatur sesuai dengan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 154 Tahun 1991 yang menyebutkan hukum hamil di luar nikah sebagai berikutSeorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan laki-laki yang dengan wanita hamil yang disebut pada ayat 1 dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung mengenai status anak yang berada dalam hukum di luar nikah, bagaimana? Simak pembahasan berikutnya, ya!Baca Juga Ini Adab Bersin dan Menguap dalam Islam, Moms Wajib Tahu!Status Anak dari Hamil di Luar NikahFoto Status Anak dari Hamil di Luar Bayi Baru Lahir Orami Photo StocksSebelumnya, pahami terlebih dulu mengenai status anak menurut hukum yang berlaku di menurut peraturan seperti Kitab Undang-Undang Hukum Perdata KUHPer dan UU Tahun 1974 tentang Perkawinan, ada dua kedudukan seorang anak, yaitu anak sah dan anak luar anak sah karena anak tersebut yang dilahirkan setelah orang tuanya menjalani perkawinan yang dinyatakan sah ketika dilaksanakan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya. Lalu, apa yang dimaksud dengan anak luar kawin?Ada dua pendapat mengenai hal ini, yaitu anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang Juga 3+ Macam-macam Najis dalam Islam dan Cara Membersihkannya, Catat!Lalu, kedua adalah anak dibenihkan di luar perkawinan, tapi dilahirkan setelah orang tuanya melakukan penganut agama Islam, anak luar nikah itu tidak dapat dikategorikan sebagai anak agama Islam juga tidak boleh melakukan pengakuan terhadap anak luar kawin, namun anak tersebut harus bukan berarti ayah biologis dari anak luar kawin itu lepas tanggung tetap harus bisa memenuhi pemberian nafkah, pendidikan, pengobatan sampai usia anak beranjak penjelasan tentang hukum hamil di luar nikah. Semoga menjadi informasi yang berguna, ya, Moms! Sponsors Link Menghadapi masalah dalam hidup merupakan sebuah ujian yang harus dilalui, untuk dapat melewatinya perlu kesabaran dan keteguhan hati serta jangan lupa untuk selalu melibatkan Tuhan dalam setiap masalahmu. Salah satu masalah yang diyakini tidak diinginkan oleh satu orangpun, terutama kaum putri di perjalanan hidupnya, yaitu dengan hamil diluar nikah. Masalah hidup ini meninggalkan bekas dengan menanggung malu dan beban moral yang harus dipertanggung jawabkan. Syukur-syukur pihak lelaki mau untuk bertanggungjawab dan menikahi perempuan yang sudah dihamilinya, apabila tidak sungguh berat cobaan yang diderita perempuan tersebut, hal ini yang menjadi suatu beban yang harus ditanggung akibat kesalahannya sendiri. Hamil diluar nikah yang jelas tidak halal dalam suatu ikatan pernikahan ini menjadi banyak polemik permasalah banyak remaja dan anak mudah jaman sekarang. Pada artikel ini akan membahas tentang penjelasan hamil diluar nikah menurut pandangan Katolik dan bagaimana kita harus menyikapinya serta informasi-informasi penting terkait dengan pembahasan kita. Dalam sejarah agama kristen yang terpenting adalah untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan menjalankan amanatnya sesuai dengan hukum kasih dalam Alkitab. Pengampunan hamil diluar nikah Hubungan seks yang terjadi tanpa ada ikatan pernikahan yang sah merupakan suatu bentuk perjinahan apapun alasannya. Hal ini juga berlaku untuk kedua individu yang memang saling mencintai dan sedang memiliki rencana untuk menikah secara resmi, tetap saja belum memiliki ikatan pernikahan yang sah menurut negara dan agama. Konteks yang akan kita bahas adalah konteks kehamilan diluar nikah yang seperti itu. Pada faktanya mungkin ada kehamilan diluar nikah yang memang disebabkan oleh adanya pemerkosaan, tetapi tetap saja hal itu merupakan perbuatan perjinahan yang memang harus dihindari. Perjinahan memang merupakan perbuatan dosa, adanya dosa akan membuat kemarahan Allah, karena dengan melakukan dosa hal itu berarti sama dengan penolakan dan penghinaan terhadap Allah. Teruntuk umat Katolik di dalam melakukan perjinahan dengan kondisi sadar maka secara tidak langsung telah menolak adanya Allah dan telah menghina adanya keselamatan yang telah diberikan kepadanya. Berikut beberapa penjelasannya Dimungkinkan ia belum betul-betul disadarkan oleh Roh Kudus, sehingga adanya dosa yang tetap berkuasa dengan penuh di dalam hidupnya. Tetapi hal ini juga bisa terjadi dikarenakan tidak ada jalan hidup dengan kebenaran yang sesungguhnya. Artinya, sebagai orang-orang Kristen ia tidak akan berjalan di dalam pimpinan Roh Kudus sehingga dengan itu kuasa dosa yang terasa oleh orang Kristen tidak akan berjalan dalam sebuah pimpinan Roh Kudus, maka dari itu kuasa dari dosa yang ada dalam daging akan tetap menguasai dirinya Gal 516. alkitab telah menyaksikan betapa anak-anak Tuhan yang telah memperlihatkan sifat baik juga dapat terjatuh di dalam dosa perjinahan. Maka dari itu semua pasti ada sebabnya, Paulus telah mengingatkan agar kita selalu “mengerjakan keselamatan yang sudah dianugerahkan itu dengan takut dan gentar” Fil 212. Sesungguhkan sebesar apapun dosa dan sebagaimanapun buruknya yang terjadi, apabila ada keinginan untuk bertobat dengan sungguh-sungguh dan hati yang kuat maka dosa akan terampuni. Meskipun demikian janganlah kalian meremehkan adanya Roh Kudus. Adanya surat Ibrani telah mengingatkan mereka yang telah terus menerus telah mempermainkan Roh Kudus Ibrani 64-6 dapat dimungkinkan Tuhan tidak akan mengampuni dosa-dosa kita lagi. Maka dari itu janganlah mencoba untuk dengan sengaja berbuat dosa. Penjelasan bagi mereka yang telah berjinah sampai dengan mengalami adanya kehamilan. Pertanyaannya, apakah mereka masih bisa untuk diberkati dalam gereja ? jawaban dari pertanyaan ini akan bergantung pada kondisi mereka. Apabila mereka memang ingin bertobat dan kembali mengsucikan diri dan tidak mengulangi kesalahan yang telah dibuat maka bisa untuk tetap diberkati pernikahannya di dalam gereja. Pertobatan yang mereka lakukan harus memang terbukti dan terlihat melalui adanya ujian dengan waktu yang relatif lama. Merkea harus menunggu dari 2-3 bulan seelahnya dengan resiko kehamilan akan segera terlihat. Hal ini memang resiko yang harus diambil, sehingga memang tidak bisa terburu-buru untuk dapat diberkati di Gereja. Pada kenyataannya kehamilan diluar nikah ini merupakan hasil yang dilakukan dari orang0orang yang melakukan perjinahan dengan individu-individu yang dalam kehidupan aslinya, kehidupan rohani mereka tidak beres dan kepribadian yang belum mengerti dan kurang dewasa dalam bertindak dan tidak berfikir dahulu sebelum bertindak. Hal ini mengajarkan tentang manfaat berdoa bagi orang kristen untuk menjadikan tujuan hidup orang kristen. Demikian penjelasan mengenai hamil diluar nikah menurut pandangan Katolik. Keadaan seperti ini bukanlah keadaan yang menyenangkan, sehingga untuk remaja dan siapapun yang telah membaca artikel ini dan belum sampai pada tahap ini maka berhati-hatilah jangan sampai anda akan menyesali tindakan anda sesudahnya. Teruntuk anda yang sedang mengalami hal buruk ini selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan pengampunan bagi umatNya, tetap banyak berdoa dan melancarkan ibadah untuk selalu diberikan petunjuk dan yang terpenting jangan lupa untuk bertobat untuk dapat memperbaiki diri demi mencerminkan karakter Kristen sejati. Jangan putus ada percaya bahwa esok hari-hari baik akan datang dikemudian hari. Semoga bermanfaat dan terima kasih. ajaran alkitab, hamil diluar nikah, pandangan katolik ← Previous Next →

hamil diluar nikah menurut katolik